Uncategorized

Alternatif Cara Shalat Jum’at Di Musim Corona

“Salah satu alternatif yang mungkin bisa kita laksanakan adalah, Shalat Jumat dalam satu Muqim/Desa dengan jumlah jama’ah yang diizinkan dalam Madzhab Syafi’i yakni 3, 9 atau 10 orang.”

Oleh: Asrorulhaq M. Faesal

Himbauan pemerintah untuk menjaga jarak dan menghindari kerumunan sebab Covid-19, termasuk agar pelaksanaan sholat Jum’at diganti sholat Dzuhur dirumah masing-masing, jangan dipandang sebagai sebuah larangan beribadah atau menghalangi orang beribadah, tetapi harus difahami sebagai wujud kecintaan pemerintah kepada rakyatnya.

Alasan negara sangat kuat untuk menghimbau demikian, sebab tugas negara salah satunya adalah membuat rakyatnya aman, nyaman dan sejahtera. Dengan berkumpul dihari jumat berpotensi membuat virus Covid-19 itu semakin menyebar dan akan mengancam jiwa banyak orang. Maka dalam hal ini wajib menjaga jiwa (hifdzu an-nafs) setiap rakyatnya.

Karena itu yang penting sekali difahami dalam konteks ini, pemerintah tidak pernah melarang sholat Jum’atnya, tetapi yang dihindari adalah berkumpulnya banyak orang di satu tempat yang dikhawatirkan akan terjadi penularan disitu.

Nah bagaimana caranya mensiasati agar shalat Jum’at tetap bisa dilaksanakan atau tidak kosong secara total di suatu desa atau kampung dan disaat yang sama kita tetap bisa menaati standar protokol pencegahan penyebaran virus Korona yang resmi dari pemerintah.?

Salah satu alternatif yang mungkin bisa kita laksanakan adalah, Shalat Jumat dalam satu Muqim/Desa dengan jumlah jama’ah yang diizinkan misalnya 3, 9 atau 10 orang.

Soal kebolehan melaksanakan melaksanakan Shalat Jum’at dengan minimal 3, 4 atau 12 orang ini adalah salah satu Qoul Qodim imam Syafi’i yang dikutip para ulama dan boleh kita ikuti. Sumbernya bisa anda baca dalam kitab Risalah Jum’ah Halaman 5,:

ثم قال الشيخ سالم الحضري في كتابه المذكورة نمرة 21 ان للشافعي رحمه الله تعالى في العدد الذي تنعقد به الجمعة أربعة أقوال قول معتمد وهو الجديد وهو كونهم أربعين بالشروط المذكورة , وثلاثة أقوال في المذهب القديم ضعيفة أحدها أربعة أحدهم الإمام والثاني ثلاثة أحدهم الإمام والثالث اثنى عشر أحدهم الإمام…

“Berkata Syekh Salim al-Hudlori dalam kitabnya hal.21, dalam madzhab syafi’i mengenai jumlah yang menjadi ketentuan jum’at ada empat qaul (pendapat), yang mu’tamad adalah qaul jadid mengharuskan jumlah jum’at 40 orang dengan syarat-syarat yang telah disebut. Tiga qaul lain adalah qaul qodim yang dlo’if yaitu 4 orang salah satunya imam, 3 orang salah satunya imam dan 12 orang salah satunya imam.

Memang, pendapat yang Mu’tamad dalam Mazhab Syafi’i dalam Qaul Jadid, bahwa 40 orang adalah merupakan syarat sahnya shalat jumat. Namun demikian, dalam situasi tertentu seperti darurat Korona misalnya, boleh kita saja mengambil dasar dari Qaul Qodim yang membolehkannya.

Hanya saja, Shalat jumat model begini sebaiknya tidak dilaksanakan di Masjid dimana jumatan biasanya dilangsungkan jika berpotensi akan membuat kerumunan. Solusinya pelaksanaannya bisa di mushalla atau rumah-rumah pribadi warga.

Pendapat soal kebolehan melaksanakan shalat jum’at di mushalla atau di rumah ini penjelasannya dapat kita temukan dibanyak kitab, salah satunya dalam Tharhu At-Tatsrib juz 3 hal. 190. :

ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ (ﺃﻱ : ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ) ﺃﻥ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻻ ﺗﺨﺘﺺ ﺑﺎﻟﻤﺴﺠﺪ ، ﺑﻞ ﺗﻘﺎﻡ ﻓﻲ ﺧِﻄﺔ ﺍﻷﺑﻨﻴﺔ ؛ ﻓﻠﻮ ﻓﻌﻠﻮﻫﺎ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﺠﺪ ﻟﻢ ﻳُﺼﻞّ ﺍﻟﺪﺍﺧﻞ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﻮﺿﻊ ﻓﻲ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﺨﻄﺒﺔ ، ﺇﺫ ﻟﻴﺴﺖ ﻟﻪ ﺗﺤﻴﺔ

“Mazhab kita (Mazhab Asy-Syafi’iyah) bahwa mendirikan sholat jum’at tidak harus di masjid, melainkan boleh di sekitar bangunan-bangunan. Dan jika sholatnya bukan di masjid maka jika orang masuk di tempat itu di kala khotbah, tidak usah sholat tahiyah, karena memang tidak ada sholat tahiyah (bagi selain masjid).

Ada pertanyaan yang lain, jika hal ini kita lakukan, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi banyak sholat Jumat dalam satu kampung/desa. Sementara ini termasuk ta’addud Jumat (Jumat lebih dari satu) yang tidak dibolehkan? bagaimana menjelaskannya?

Dalam masalah ini, baiknya kita mengacu ke hasil muktamar NU tahun 1984 di Situbondo yang menetapkan, dalam mazhab Syafi’i, penyelenggaraan Jum’at lebih dari satu memang tidak dibolehkan, tetapi menjadi dibolehkan (ta’addud al-Jum’ah) jika terdapat tujuan tertentu (hajah).

Yang dimaksud hajah dalam pembahasan kali ini ialah: Sulitnya berkumpul (‘usr al-ijtima’) antara lain karena sempitnya masjid (dhaiq al-makan) atau adanya permusuhan (‘adawah), atau jauhnya pinggir-pinggir negeri (athraf al-balad).

Maka keadaan kita saat ini yang adanya kekhawatiran untuk berkumpul dan juga adanya larangan pemerintah untuk berkumpul, lebih utama untuk dimasukkan ke kategori ‘usr al-ijtima’ (sulit berkumpul) yang merupakan salah satu hajah yang membolehkan penyelenggaraan Jumat lebih dari satu.

Dan terakhir, yang tak kalah pentingnya adalah meskipun kita melaksanakan shalat Jum’at dengan cara alternatif seperti ini, ditekankan bagi kita untuk kembali SHOLAT DZUHUR setelah melaksanakan sholat Jumat tersebut sebagai bentuk Ihtiyath (kehati-hatian) dan Al khuruj minal khilaf.

Wallahu ta’ala A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close