Bahtsul Masa'ilFiqroh NahdliyyahHeadlineTanya Tuan Guru

Bagaimana Hukumnya Menikahi Wanita hamil?

Assalamualaikum Almukarram
Beberapa waktu lalu dikampung saya terjadi pernikahan akibat dari “kecelakaan” hamil diluar nikah. Apakah pernikahan dalam keadaan hamil hukum sah? Mohon penjelasannya. Tampiasih. Wss.

Tajir – Lotim

Walaikumsalam saudara Tajir.
Hukum menikahi wanita hamil dibagi dalam empat keadaan:

Pertama, wanita yang hamil itu tidak pernah menikah. Dalam hal ini Madzhab Syafi’i membolehkan untuk menikahinya, baik oleh lelaki yang berbuat zina dengannya ataupun oleh orang lain, dan boleh pula berhubungan badan dalam keadaan hamil tersebut. Salah satu qaul dalam Mazhab Abu Hanifah juga membolehkan pernikahan wanita hamil dalam keadaan ini, hanya saja setelah menikah tidak boleh berhubungan badan sampai melahirkan.

Sedangkan dalam qaul-nya yang lain, Mazhab Abu Hanifah sebagaimana Mazhab Maliki dan Hambali mengatakan tidak boleh sebelum melahirkan, bahkan Mazhab Hambali menambahkan syarat harus sudah bertaubat di samping setelah melahirkan.

Kedua, perempuan bersuami dan hamil karena perselingkuhan, maka sepakat ulama mengatakan tidak boleh dinikahkan meskipun sudah diceraikan oleh suaminya ketika perempuan itu hamil, karena selama hamil, dia dihukumi sedang dalam masa iddah.

Ketiga, janda. Jika dia hamil saat dia menjanda belum empat tahun, maka hukumnya sama dengan keadaan yang kedua, yaitu tidak boleh dinikahkan sebelum melahirkan. Dan jika hamilnya setelah empat tahun dia menjanda, maka hukumnya sama dengan yang pertama.

Wallahu a’lam.

Kolom Tanya Tuan Guru (TTG) ini diasuh oleh TGH. Esrar Al Haque, Lc. M. Hi, seorang ulama muda progresif lulusan Madrasah Shalatiyah Makkah dan saat ini sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al Hasanain NU Beraim. Silakan kirim pertanyaan anda melalui WA/LINE di HP. 082339993330 atau email ke ltnnuloteng@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close