HeadlineTanya Tuan Guru

Hukum Musik Menurut Ahlussunnah Waljama’ah

PERTANYAAN :
Assalamualaikum Almukarram Tuan Guru
Saya pernah melihat sebuah video yang isinya sejumlah ustad-ustad terkenal mengecam nyanyi-nyanyian dan musik. Menurut mereka nyanyi-nyanyian dan musik hukumnya haram, baik pekerjaannya maupun alat yang digunakan. Bagaimana Ahlussunnah Waljama’ah memposisikan musik? Benarkah musik hukumnya haram?

Terimakasih – Adnan

JAWABAN :

Sejak dulu hukum nyanyian, baik nyanyian yang diiringi alat musik ataupun tidak, selalu menjadi salah satu materi perdebatan para fuqaha.  Para ulama bisa bersepakat dalam beberapa hal tapi juga berbeda pandangan dalam beberapa hal lainnya.

Misalnya, mereka bersepakat mengenai haramnya nyanyian yang mengandung atau mengajak pada kekufuran atau kemaksiatan. Sebagimana juga mereka bersepakat perihal bolehnya nyanyian yang baik pada acara-acara kebahagiaan, seperti resepsi pernikahan, dan hari raya.

Namun, mereka tidak bersepakat perihal jenis nyanyian. Ada sebagian mereka yang memperbolehkan semua jenis nyanyian, baik diiringi alat musik ataupun tidak. Tapi sebagian lagi membolehkan jika tidak diiringi alat musik, tetapi tidak membolehkan jika menggunakan alat musik. Bahkan, ada sebagian ulama yang lain melarangnya sama sekali.

Sebagaimana perbedaan pandangan mereka dalam soal-soal fiqh yang lain, dalam soal nyanyian ini perbedaan juga karena perbedaan dalam memahami sebuah ayat atau hadist yang berbicara soal nyanyian dan musik.

Diantara dalil yang paling sering dipergunakan oleh mereka yang mengharamkan nyanyian atau alat musik adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ، يَسْتَحِلُّونَ الحِرَ وَالحَرِيرَ، وَالخَمْرَ وَالمَعَازِفَ

“Di antara umatku akan ada suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr (minuman keras), dan alat-alat musik”

Hadits ini menjadi dasar mereka mengharamkan alat musik karena penyebutannya yang bersamaan dengan zina, sutra dan minuman keras.

Sedangkan yang membolehkan nyanyian dan musik juga bersandar pada beberapa hadits antara lain hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Ummil Mukminin Aisyah ra bahwa Abu Bakar datang ke rumah Aisyah pada waktu hari Mina (Idul Adha/Tasyrik), beliau mendapati dua anak perempuan sedang menyanyi seraya memukul gendang, sedangkan Nabi menutup wajahnya dengan pakaian. Abu Bakar menghardik kedua anak perempuan itu, lalu Nabi melepaskan pakaian dari wajahnya dan bersabda:

دعهما يا أبا بكر.. فإنها أيام العيد

“Biarkanlah mereka berdua wahai Abu Bakar, karena sesungguhnya ini adalah hari raya”

Dilihat sepintas, secara zahir terdapat pertentangan antara kedua hadits tersebut, dan terdapat banyak jawaban yang dikemukakan para ulama yang memperbolehkan atau yang mengharamkan, terhadap kedua kelompok hadits tersebut, akan tetapi di sini kita mencoba menggunakan teori Musthalahul Hadits dalam menyelesaikan dua dalil yang kelihatannya saling bertentangan, untuk mengetahui kira-kira apa alasan yang membolehkan ataupun yang mengharamkan.

Pertama dengan menggunakan metode tarjih, yakni mencari yang paling kuat diantara dua dalil untuk dipergunakan dan yang lebih lemah ditinggalkan. Maka dengan metode ini akan menghasilkan dua kemungkinan: dalil yang membolehkan lebih kuat atau dalil yang mengharamkan yang lebih kuat.

Kedua, dengan menggunakan metode al-jam’i wat-tawfiq, yakni mengkompromikan dua dalil yang terlihat bertentangan untuk dicari titik temunya. Maka dengan metode ini akan menghasilkan perincian hukum, maksudnya alat musik haram dengan syarat tertentu, dan boleh dengan syarat tertentu pula. Namun dalam penentuan syarat yang membuat alat musik menjadi boleh atau haram ini juga berbeda-beda, setidaknya menjadi tiga tinjauan.

Pertama, syarat dibolehkan nyanyian dan alat musik adalah dilakukan pada keadaan-keadaan yang menggembirakan, seperti resepsi pernikahan, dan hari raya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits tentang keadaan-keadan tersebut. Dan selain itu tidak boleh.
Namun mengkhususkan kebolehan nyanyian dan alat musik pada keadaan-keadaan ini ditolak oleh hadits Buraidah berikut:

خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم في بعض مغازيه فلما انصرف جاءت جارية سوداء فقالت يا رسول الله إني كنت نذرت إن ردك الله صالحاً –وفي رواية: سالماً- أن أضرب بين يديك بالدف وأتغنى فقال لها رسول الله صلى الله عليه و سلم إن كنت نذرت فاضربي وإلا فلا، فجعلت تضرب ….”

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pergi untuk berperang. Ketika beliau pulang, ada seorang budak perempuan berkata kepadanya, ‘wahai Rasulullah, aku bernadzar jika engkau pulang dalam keadaan sehat (dalam riwayat lain: selamat) aku akan menabuh duff untukmu sambil bernyanyi’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata kepadanya: ‘Kalau engkau memang sudah bernazar, lakukanlah. Jika tidak maka jangan lakukan’. Akhirnya ia pun memainkan duff…..” (HR. Tirmidzi).

Di hadits terlihat bahwa wanita itu bermain musik bukan pada hari raya maupun resepsi pernikahan, tapi untuk menunaikan nadzar, dan nadzar itu harus ditunaikan adalah yang bukan sesuatu yang haram.

Kedua, syarat dibolehkan nyanyian dan alat musik adalah yang ditabuh, seperti duff (rebana), sebagaimana yang dimainkan oleh kedua perempuan di hadits Aisyah dan lainnya, sedangkan jika ditiup atau dipetik (berdawai) maka tidak boleh.

Namun pensyaratan hal ini oleh yang tidak setuju ditolak karena diizinkannya nyanyian dan alat musik duff di hadapan Nabi, bukan berarti hanya alat musik itu yang dibolehkan, sedang yang lain tidak, karena tidak adanya ucapan Nabi yang sharih melarang salain duff di saat itu.

Ketiga, syarat tidak dibolehkan nyanyian dan alat musik adalah jika itu melalaikan dan menyesatkan. Syarat ini sesuai QS. Lukman: 6

ومن الناس من يشتري لهو الحديث ليضل عن سبيل الله

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.”
Kata ‘lahwal-hadits’ di ayat asal maknanya adalah segala perkataan yang tidak berguna, dan kalau nyanyian dan alat musik termasuk ke dalamnya, maka ia haram apabila membuat manusia sesat dari jalan Allah.

Dari uraian singkat ini terlihat bahwa masalah nyanyian dan alat musik merupakan masalah khilafiyah, maka seyogyanya kita menempatkannya sebagaimana masalah khilafiyah lainnya. Bagi yang mau menempuh jalan kehati-hatian (ihtiyath) dengan tidakmembolehkan secara mutlak, dipersilahkan, namun perlu diingat bahwa para ulama yang membolehkan tidak membangun argumentasi mereka dari ruang kosong, namun memiliki pondasi yang kokoh, bahkan diantara mereka ada yang membuat karya khusus tentang nyanyian dan musik untuk menguatkan pendapat kebolehannya seperti Imam Al-Ghazali, Imam Ibn Hazm, dan Syekh Yusuf Al-Qaradawi.

Nah, perbedaan pendapat para fuqaha ini sama-sama bersumber dari Nash Qur’an maupun hadits. Dan yang perlu digarisbawahi oleh kita sekarang adalah, bahwa mereka dalam mengeluarkan pendapat, tidak pernah lepas dari sandaran dalil Al-Qur’an maupun Hadits. Ini penting kita sadari agar kita tetap menjaga adab-akhlak kepada para fuqaha dan ulama kita, dan tidak cepat menvonis mereka hanya karena pemahaman yang kita yakini benar berbeda dengan pendapat mereka.

tanya-tuan-guru-hukum-nyanyian-musik-asrorul-haq

Kolom Tanya Tuan Guru (TTG) ini diasuh oleh TGH. Esrar Al Haque, Lc. M. Hi, seorang ulama muda progresif lulusan Madrasah Shalatiyah Makkah dan saat ini sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al Hasanain NU Beraim. Silakan kirim pertanyaan anda melalui WA/LINE di HP. 082339993330 atau email ke ltnnuloteng@gmail.com

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close