HeadlineTanya Tuan Guru

Muadzin Baca Shollu Fi Buyuutikum, Kita Jawab Apa?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum, Tanya Tuan Guru. Kaitannya dengan Adzan yang ditambahi Shollu Fi Buyutikum apakah ada dasarnya dalam Islam. Dan apa kalimat yang kita baca sebagai jawaban ketika mendengar muadzin mengucapkannya? terimakasih

Nayla Maulida

JAWABAN :

Dalam beberapa hadits ditemukan peristiwa penambahan kalimat adzan tatkala adzan hanya sebagai penanda masuk waktu shalat dan bukan ajakan untuk sholat berjamaah, disebabkan hujan badai atau uzur syar’i lainnya.

Hadits Pertama, dari Ibnu Umar ra:

عن ابن عمر أَنَّهُ نَادَى بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ وَمَطَرٍ فَقَالَ فِى آخِرِ نِدَائِهِ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ أَوْ ذَاتُ مَطَرٍ فِى السَّفَرِ أَنْ يَقُولَ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ.

Ibnu Umar pernah adzan untuk shalat di malam yang dingin, angin bertiup kencang dan hujan, kemudian di akhir adzan beliau tambahkan: “Alaa shollu fi rihaalikum, Alaa shollu fir-rihaal” (Shalatlah di rumah kalian, shalatlah di rumah). Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyuruh muadzin, apabila cuaca malam dingin dan berhujan ketika beliau safar untuk mengucapkan, ’Alaa shollu fi rihaalikum’ [Shalatlah di tempat kalian masing-masing]’. (HR. Muslim)

Hadits Kedua, dari Nafi’, beliau menceritakan:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ فَقَالَ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ ذَاتُ مَطَرٍ يَقُولُ « أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ ».

“Ibnu Umar pernah beradzan ketika shalat di waktu malam yang dingin dan berangin. Kemudian beliau mengatakan ‘Alaa shollu fir rihaal’ [shalatlah di rumah kalian].

Kemudian beliau mengatakan,”Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mu’adzin ketika keadaan malam itu dingin dan berhujan, untuk mengucapkan ‘Alaa shollu fir rihaal’ [hendaklah kalian shalat di rumah kalian].”(HR. Muslim)

Hadits ketiga, dari Ibnu Abbas ra, beliau berpesan pada mu’adzin hari Jumat saat hujan:

إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلاَ تَقُلْ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ قُلْ صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ. قَالَ : فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِى الطِّينِ وَالدَّحْضِ.

“Apabila engkau selesai mengucapkan ‘Asyhadu allaa ilaha illalloh, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’, maka janganlah engkau ucapkan ‘Hayya ’alash sholaah’. Tetapi ucapkanlah ‘Sholluu fii buyutikum’ [Sholatlah di rumah kalian].
Masyarakat pun sepertinya mengingkari perkataan Ibnu Abbas tersebut. Lalu Ibnu Abbas mengatakan, “Apakah kalian merasa heran dengan hal ini, padahal hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sesungguhnya Sholat Jumat itu Azimah, dan saya tidak suka menyuruh kalian keluar rumah sehingga kamu berjalan di tanah becek dan berlumpur (HR. Muslim).

Dari riwayat di atas, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa lafazh adzan tambahan yang boleh dipilih salah satunya untuk diamalkan dalam situasi sejenis, yakni:
1. Alaa sholluu fir-rihaal (Hendaknya kalian shalat di rumah)
2. Alaa sholluu fii rihaalikum (Hendaknya kalian shalat di rumah kalian)
3. Sholluu fii buyuutikum (Sholatlah di rumah kalian).

Kemudian, dimana lafaz yang dimaksud itu diletakkan?

Ada dua pendapat:
Pertama, menggantikan lafadz ‘hayya ‘alas-shalaah’, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas.

Kedua, diucapkan langsung setelah selesai adzan, sebagaimana yang dinyatakan dalam riwayat Ibnu Umar.

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim bahwa keduanya boleh dilaksanakan, tetapi lebih baik dibaca diakhir adzan, beliau berkata:

ﻭﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺃﻻ ﺻﻠﻮا ﻓﻲ ﺭﺣﺎﻟﻜﻢ ﻓﻲ ﻧﻔﺲ اﻷﺫاﻥ ﻭﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﻧﺪاﺋﻪ ﻭاﻷﻣﺮاﻥ ﺟﺎﺋﺰاﻥ ﻧﺺ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ اﻷﻡ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ اﻷﺫاﻥ ﻭﺗﺎﺑﻌﻪ ﺟﻤﻬﻮﺭ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ فيجوز ﺑﻌﺪ اﻷﺫاﻥ ﻭﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺋﻪ ﻟﺜﺒﻮﺕ اﻟﺴﻨﺔ فيهما ﻟﻜﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺑﻌﺪﻩ ﺃﺣﺴﻦ ﻟﻴﺒﻘﻰ ﻧﻈﻢ اﻷﺫاﻥ ﻋﻠﻰ ﻭﺿﻌﻪ

“Dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, muadzin mengucapkan ’Alaa shollu fii rihalikum’ di tengah adzan. Sedangkan dalam hadits Ibnu Umar, beliau mengucapkan lafadz ini di akhir adzannya. Kedua cara seperti ini dibolehkan, sebagaimana ditegaskan Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm pada Bab Adzan, dan diikuti oleh mayoritas ulama madzhab kami (syafi’iyah). Lafadz ini boleh diucapkan setelah adzan maupun di tengah-tengah adzan, karena terdapat dalil untuk kedua bentuk adzan ini. Akan tetapi, sesudah adzan lebih baik, agar lafadz adzan yang biasa diucapkan, tetap terjaga”

Tinggal satu masalah, yakni bagi yang mendengarkan adzan dengan kalimat tersebut, bacaan apa yang dibaca untuk menjawabnya?

Dalam kitab Asna Al-Mathalib disebutkan:

ﻭاﻟﻘﻴﺎﺱ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺃﻻ ﺻﻠﻮا ﻓﻲ ﺭﺣﺎﻟﻜﻢ اﻵﺗﻲ ﺫﻛﺮﻩ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻟﻪ ﻓﻲ اﻟﺤﻴﻌﻠﺘﻴﻦ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﻲ اﻟﻤﻬﻤﺎﺕ

“Secara qiyas bahwasanya (yang mendengar) adzan ‘alaa sholluu fii rihaalikum’ membaca apa yang dibaca ketika mendengar dua hai’alah (hayya ‘alash-sholaah dan hayya ‘alal-falaah) sebagaimana disebutkan dalam Muhaimmat”

Di sini dijelaskan bahwa jawaban atas kalimat adzan “alaa sholluu fii rihaalikum” adalah sama dengan jawaban kalimat adzan “hayya ‘alash-sholaah” dan “hayya ‘alal-falaah”, yakni kalimat hauqalah (laa Haula wa-laa quwwata illa billahi al-‘aliyil-adziim).

Wallahu ta’ala A’lam

Kolom Tanya Tuan Guru (TTG) ini diasuh oleh TGH. Esrar Al Haque, Lc. M. Hi, seorang ulama muda progresif lulusan Madrasah Shalatiyah Makkah dan saat ini sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al Hasanain NU Beraim. Silakan kirim pertanyaan anda melalui WA/LINE di HP. 082339993330 atau email ke ltnnuloteng@gmail.com

One Comment

  1. Maka, apa jawab mari mendirikan solat dan solatlah kalian di rumah itu sama? · لا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِالله (tiada daya dan upaya tanpa izin Allah)?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close