BanomHeadlineMuslimat NU LotengWarta Nahdliyyin

Muslimat NU Lombok Tengah Adakan Konfercab yang Ke-5

Praya, nulomboktengah.or.id | Pimpinan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Lombok Tengah pada Sabtu, (29/2/2020), mengadakan Konferensi Cabang Muslimat NU Kabupaten Lombok Tengah yang ke-5 di Kantor PCNU Kabupaten Lombok Tengah, Jalan WR Supratman 25 Praya.

Ketua Panitia Konfercab Muslimat NU Kabupaten Lombok Tengah Baiq Nurul Aini, S. Pd dalam sambutannya mengatakan, Konferensi Cabang (Konfercab) yang Ke-5 ini adalah ajang untuk memilih pengurus baru muslimat NU Kabupaten Lombok Tengah untuk masa bakti 2020-2025.

Dikatakannya, untuk mendanai kegiatan ini masing-masing Pimpinan Anak Cabang (PAC) mengeluarkan iuran masing-masing 100 ribu dan Panitia masing-masing 50 Ribu

“Kami ingin melaksanakaan kegiatan- kegiatan Muslimat dengan mandiri tanpa harus membuat proposal.”

Disampaikannya, sebelum diadakan Konfercab ini Jajaran Pimpinan Cabang Muslimat dan Panitia mengadakan roadshow silaturrahim ke sejumlah tokoh sepuh NU di Lombok Tengah.

Sementara itu, Ketua Muslimat NU Lombok Tengah, Hj. Rohani yang akan segera demisioner dalam sambutannya mengajak agar warga NU khususnya Muslimat untuk tetap ikut menjaga Ahlussunnah Waljama’ah baik sebagai ibu rumah tangga, sebagai da’iyah dan sebagai anggota masyarakat.

“Saya mengajak kita semua meningkatkan iman dan intelektual dengan tetap menyambung keilmuannya melalui majelis- majelis ilmu yang diisi oleh para alim ulama Nahdlatul Ulama.” ajaknya.

Ia menambahkan, untuk saat ini Muslimat NU Loteng telah memiliki Dimasing-masing Ranting dan PAC sudah berjalan. Muslimat juga saat ini sudah membentuk beberapa wadah seperti Yayasan Haji Muslimat (YHM).

Ketua PCNU Lombok Tengah HL. Pathul Bahri (LBP) dalam sambutannya mengatakan, eksistensi Muslimat NU dengan berbagai macam kegiatannya di Lombok Tengah adalah bukti nyata bahwa NU di Lombok Tengah tengah hidup dan maju.

Dikatakannya, maraknya berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Badan Otonom dan Lembaga di lingkungan PCNU kabupaten Lombok Tengah menunjukkan bahwa NU di kabupaten ini sangat besar.

“Terutama dalam perayaan Harlah 94 tahun ini, kegiatan Banom dan Lembaga seperti tak ada habis-habisnya, mulai dari Pengajian, Pelatihan, Lomba-lomba dan termasuk konfercab muslimat ini,” Ungkapnya.

Ia menambahkan, dengan banyaknya kegiatan ini, LBP yang juga wakil Bupati Lombok Tengah ini mengaku semakin bersemangat dan tak lelah-lelah mengurus NU.

“Terus terang, ini membuat saya semakin semangat dan tak lelah-lelah mengurus NU. Saya juga mengingatkan Ibu-ibu untuk memeriahkan puncak Harlah NU yang akan berlangsung 11 Maret 2020 nanti yang akan dihadiri oleh KH. Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq Djogja” Ungkapnya.

Datok Ma’arif Jelaskan Soal Islam Nusantara

Acara dipungkasi dengan tausiyah Aswaja dan Ke NU an yang disampaikan oleh TGH Ma’arif Makmun Diranse (Datok Ma’arif)

Dalam tausiyahnya, Datok Ma’rif menyampaikan. Muslimat NU adalah salah satu barometer kemajuan Nahdlatul Ulama dari masa ke masa.

“Muslimat NU paling banyak berjasa dalam mensukseskan program-program Nahdlatul Ulama baik di Pusat hingga Daerah sejak NU berdiri” Ungkapnya.

Datok Ma’rif juga berpesan, agar semua warga Nahdlatul Ulama terutama Muslimat untuk tetap menjaga anak-anaknya agar tidak terjerumus mengikuti faham-faham yang tidak sejalan dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah dan senantiasa selalu menjaga sanad ilmu.

“Ciri Aswaja itu adalah memiliki sanad keilmuan, tidak berguru ke google tetapi kepada para Wali Songo dan para Ulama-ulama setelahnya. Cara dakwah merekalah yang kita tiru” Tegasnya.

Datok Ma’rif juga menjelaskan bagaimana dakwah Wali Songo menyebarkan Islam tanpa peperangan tetapi Islam berhasil tersebar dengan akhlak, kearifan dan kebudayaan.

“Saya kasih contoh, dulu Majapahit beragama Hindu dan sangat menghormati Sapi karena itu jelmaan persembahan mereka. Para wali-wali itu lalu mengajarkan ummat Islam jika berkorban, jangan menyembelih sapi demi menghormati agama Hindu. Karena kearifan itulah banyak orang Majapahit masuk Islam dan berdirilah kerajaan Islam Demak” Cerita Datok Ma’rif.

Berkaitan dengan itu, Datok Ma’rif juga menyinggung istilah Islam Nusantara. Dikatakannya, Islam Nusantara adalah karakteristik Aswaja yang melestarikan budaya yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Termasuk budaya, adat istiadat dan tradisi peninggalan orang tua dulu.

“Islam Nusantara itu bukanlah Islam yang berbeda secara akidah dan syariah. Melainkan hanya berbeda dari segi kebudayaan, adat dan tradisinya. Saya contohkan, disini ada bedug, ada rowah, ada pesaji, ada serakal, besentulak dan lainnya itu semua ada sejarahnya. Itu yang oleh Wahabi dikatakan Bid’ah, Haram. Padahal itu tradisi baik yang harus kita jaga” Jelasnya.

Karena itu ia berharap kepada Muslimat NU tidak ikut-ikutan terprovokasi dengan hasutan-hasutan yang menjelek-jelekkan Islam Nusantara.

“Itu kalo dalam ilmu nahwu ada yang disebut Hadzful Mudhof, Islam Nusantara dengan pengertian Islam yang ada di Nusantara dengan ciri kekhasan tersebut. Karena itulah yang menjadikan Islam ini damai dan menyejukkan” Pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close