Uncategorized
Trending

Opini !!! Wahyu Satriadi “Corona Menggila, Pasar Merajalela”

Wahyu Satriadi (Ketua PC GP ANSHOR Lombok Tengah)

Sampai detik ini, Corona Virus belum memperlihatkan tanda-tanda mereda. Sederhana saja, kasusnya bertambah dan kematian akibat virus tersebut terus mengalami peningkatan waktu demi waktu. Meskipun pemerintah telah mengambil langkah-langkah pencegahan tetapi kasus-kasus baru terus bermunculan.

Social dan physical distancing, lock down, anjuran memakai masker dan PSBB diterapkan tetapi tetap saja Covid-19 tak terbendung. Lock down, PSBB dan aneka kebijakan lainnya cuman menghentikan sementara penyebaran virus. Perang melawan virus seperti ini memang sangat melelahkan.

Jika diminta memilih, lebih baik perang dalam artian sebenarnya ketimbang berperang melawan virus yang tak nampak. Musuhnya jelas dan kelihatan. Yang akan diburu dan dibunuh jelas dengan ukuran kemenangan dan kekalahan itu juga jelas.

Persoalan ini makin memberatkan karena sampai saat ini vaksin belum ditemukan jua. Dan, jika mau jujur bahwa kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah belum terlaksana dengan maksimal sehingga problemnya berlipat-lipat. Ada soal komitmen yang dijalankan setengah-setengah dan penolakan yang hampir seragam di tengah-tengah masyarakat.

Ambil contoh, soal intruksi pemerintah sholat jum’at diganti dengan sholat zuhur di rumah. Ternyata masih banyak masyarakat yang ngeyel meskipun itu adalah produk ijma ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI). Maka masih banyak masjid-masjid dengan diam-diam melaksanakan sholat jum’at di masjid.

Masalah serupa bersemi kembali setelah pemerintah kembali menggulirkan instruksi paket ibadah Ramadhan tahun ini hingga Idul Fitri 1441 H di rumah saja. Memang memberatkan, saya pribadi pun merasa ini sangat dilematis. Ibadah Ramadhan adalah ibadah tahunan yang memiliki suasana dan rasa yang sangat berbeda.

Namun apa hendak dikata, ini adalah instruksi pemerintah. Ia juga adalah fatwa ulama yang otoritatif dalam bidangya dan yang tak kalah penting ini demi kebaikan bersama. Lalu apa yang bisa diharapkan dalam situasi seperti ini? Solusi dalam bentuk apa yang bisa digulirkan demi kebaikan bersama. Tentunya, harapan kita (semua) virus Corona segera berlalu.

Pasar Yang Problematis

Banyak warga yang mengatakan, masjid sebagai tempat ibadah, rumah Allah, suci nan bersih kok ibadah di dalamnya dilarang-larang? Tetapi kenapa pasar yang kotor, jorok dan manusia segala penjuru bergumul disana boleh dibuka? Mana lebih potensial Covid-19 menyemai dan menyebar lewat pasar ataukah masjid?

Sebuah pertanyaan yang logis dan benar 100%. Tetapi menyandingkan pasar dengan masjid tidak dalam satu konteks saja. Tidak aple to aple. Pasar adalah isi perut dan masjid adalah isi hati. Keberlangsungan hidup warga secara lahiriah tentu harus terjaga. Bukan itu saja, di pasar banyak orang yang memarkirkan isi dompet dan perutnya. Pedagang pasti, tapi ada tukang ojek, buruh pasar, tukang parkir sampai dengan preman sekalipun berharap melanjutkan hidupnya dari aktivitas pasar.

Tetapi dengan kondisi pasar saat ini, hingar-bingar warga di dalamnya perlu menjadi perhatian serius. Setelah sebelumnya pasar-pasar ditutup, kini dibuka kembali dengan syarat protokol pencegahan penyebaran Covid-19 dilaksanakan. Tapi mohon maaf, ternyata aturan tersebut tidak diindahkan mulai dari durasi berapa lama pasar dibuka, ketidaktaatan warga pasar dengan protokol pencegahan penyebaran Covid-19.

Mencermati posisi dan potensi penyebaran Covid-19 melalui jalur pasar sangatlah rentan maka kebijakan membuka pasar menjadi penting di-evaluasi. Kebijakan bagus, kebijakan itu sangat kompromistis tetapi tidak jika tidak didukung dengan ketegasan aparat dan kepedulian masyarakat. Jadi, sampai menunggu kondisi membaik akan lebih tepat pasar ditutup untuk sementara waktu. Dan kebijakan tersebut akan berlaku sama dengan pusat-pusat kegiatan publik yang menyedot perhatian dan konsentrasi warga. Wallahu’alam.

*Ketua PC. GP. Ansor Lombok Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close