Bahtsul Masa'ilTanya Tuan Guru

Shalat Sunnat, Sementara Masih Terdapat Shalat Qadha’

PERTANYAAN :
Assalamu’alaikum wr wb
Ampure Almukarram TGH. Bolehkah kita shalat sunnat sementara shalat wajib belum kita qadha, sementara kita sendiri lupa berapa jumlah shalat yang belum kita qadha tersebut?. Dan bagaimana caranya mengadhanya karena saking banyaknya shalat wajib yang ditinggalkan. Matur tampiasih

Fauzan Hadi Batukliang

JAWABAN :

Wa’alaikummussalam wr wb

Saudara Fauzan yang berbahagia…

Merupakan ijma’ ulama empat mazhab bahwa sholat fardhu yang ditinggalkan dengan sengaja atau tidak, wajib untuk diqadha’. Jika sholat yang tertinggal tidak diketahui jumlahnya, maka Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat wajib mengqadha sejumlah shalat hingga ia yakin telah terbebas dari semua shalat yang pernah ia tinggalkan, sedang menurut Hanafiyyah dan Malikiyah, tidak perlu sampai yakin, asal telah ada dugaan bahwa sholat yang pernah ia tinggalkan telah ia qadha’ maka sudah cukup. Dalam kitab Al-Fiqh ‘alaa Madzaahib al-Arba’ah (I/763) dijelaskan:

من عليه فوائت لا يدري عددها يجب عليه أن يقضي حتى يتيقن براءة ذمته عند الشافعية والحنابلة وقال المالكية والحنفية : يكفي أن يغلب على ظنه براءة ذمته

“Sesiapa yang memiliki sejumlah sholat luput, yang tidak diketahui pasti jumlahnya, wajiblah dia meng-qadha sampai yakin dia telah terbebas dari tanggungannya, menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah. Sedangkan Malikiyah dan Hanafiah berkata: cukup persangkaan kuat bahwa dia telah bebas dari tanggungan (maksudnya meskipun tidak sampai yakin, pen)”

Terus, bagaimana cara meng-qadha-nya?, Bolehkah sholat sunnah sebelum meng-qadha semua tanggungannya?

Dalam masalah ini, pendapat yang kuat di Mazhab Syafi’i adalah jika dia meninggalkan sholat dengan tanpa uzur syar’i, maka wajib dia meng-qadha segera, tidak boleh beraktivitas selain dari qadha sholat sampai semua sholatnya terbayarkan, kecuali hal-hal yang tidak boleh tidak dia lakukan. Bahkan diharamkan atasnya melaksanakan sholat Sunnah.

Tetapi jika dia meninggalkan sholat karena udzur syar’ie seperti lupa atau ketiduran, maka menyegerakan qadha sholat atasnya tidak wajib, hanya disunnahkan saja. Jadi ketika itu boleh dia beraktivitas yang lain sebelum meng-qadha, termasuk melaksanakan sholat sunnah. Dalam kitab Fathul-Mu’in (1/23) dijelaskan:

قال شيخنا أحمد بن حجر رحمه الله تعالى والذي يظهر أنه يلزمه صرف جميع زمنه للقضاء ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد منه وأنه يحرم عليه التطوع ويبادر به ندبا إن فات بعذر كنوم لم يتعد به ونسيان كذلك

“Syekh Ibnu Hajar berkata, yang Zahir adalah wajibnya mempergunakan seluruh waktunya untuk meng-qadha, selain apa yang dia butuhkan untuk hal-hal yang tidak boleh tidak. Dan bahwasanya haram dia melakukan sholat sunnah. Sedangkan jika sholat luput karena udzur seperti tidur, lupa, maka disunnahkan menyegerakan”.

Permasalahan yang tak kalah penting untuk dibahas adalah ketika seseorang dari sejak baligh tidak pernah sholat, kemudian setelah berpuluh-puluh tahun dia ingin taubat, jika dia berat untuk melaksanakan pendapat ini, maka di sana terdapat pendapat ulama yang lebih memudahkan, yakni boleh meng-qadha semampunya dengan mencicil sampai yakin atau kuat prasangkaannya bahwa semua sholat yang tertinggal sudah terbayar. Dijelaskan dalam kitab Bugyatul Mustarsyidin (71):

ومن كلام الحبيب القطب عبد الله الحداد : ويلزم التائب أن يقضي ما فرَّط فيه من الواجبات كالصلاة والصوم والزكاة لا بد له منه ، ويكون على التراخي والاستطاعة من غير تضييق ولا تساهل فإن الدين متين ، وقد قال : “بعثت بالحنيفية السمحاء”. وقال : “يسروا ولا تعسروا” اهـ ، وهذا كما ترى أولى مما قاله الفقهاء من وجوب صرف جميع وقته للقضاء ، ما عدا ما يحتاجه له ولممونه لما في ذلك من الحرج الشديد.
Di antara perkataan Al-Habib Abdullah Al-haddad: seseorang yang taubat wajib meng-qadha kewajiban shalat, puasa, zakat yang pernah ia tinggalkan. Kewajiban ini bersifat leluasa dan dilakukan semampunya, tanpa dipersulit (merasa keberatan), namun juga tidak boleh sampai menganggap sepele, karena sesungguhnya agama itu solid, dan Nabi bersabda: “Aku diutus dengan agama yang lurus (hanif), lagi mudah”. Beliau juga bersabda: “Mudahkan, jangan mempersulit”.

Pendapat ini -seperti yang anda lihat- lebih utama dari pendapat ulama yang mengatakan tidak boleh melakukan apapun selain men-qadha shalat, ia hanya diperbolehkan melakukan aktifitas lain untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Karena teramat sulit diamalkan”

Maka berdasarkan pendapat ini, ia tidak harus menghabiskan seluruh waktunya untuk men-qadha, ia cukup men-qadha semampunya, asal tdak mengangap sepele tanggungan tersebut. Misalkan lima tahun di tidak pernah sholat, maka ia bisa mencicilnya dengan cara misalkan tiap sholat dia lakukan dua kali, satu untuk kewajiban hari itu, satu untuk qadha, maka dengan melaksanakan itu secara terus-menerus, setelah lima tahun akan terbayar hutang shalatnya yang lima tahun. Atau tiga sholat dalam satu waktu, satu untuk kewajiban hari ini dan dua untuk qadha, maka dalam waktu 2,5 tahun sudah terbayar. Orang lain sholat sunnah qobliyah dan ba’diyah, dia sholat qadha, sehingga tidak kentara juga.

Demikian jawaban kami, Wallahu ta’ala a’lam.

Kolom Tanya Tuan Guru (TTG) ini diasuh oleh TGH. Esrar Al Haque, Lc. M. Hi, seorang ulama muda progresif lulusan Madrasah Shalatiyah Makkah dan saat ini sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al Hasanain NU Beraim. Silakan kirim pertanyaan anda melalui WA/LINE di HP. 082339993330 atau email ke ltnnuloteng@gmail.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close