Bahtsul Masa'ilFiqrohHeadlineTanya Tuan Guru

Yang Sunnah Itu Monogami, Bukan Poligami

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum wr wb
Pengasuh rubrik TTG yang dirahmati Allah, maaf mau bertanya mengenai poligami. Sering kali kita mendengar dari para ustadz dan tuan guru bahwa poligami itu hukumnya sunnat, sehingga banyak tokoh agama yang memiliki lebih dari satu orang istri, bahkan kemarin sempat viral rencana studi banding DPRD Lombok tengah ke Aceh terkait aturan poligami.

Pertanyaan kami, bagaimana pandangan para ulama terdahulu dalam masalah poligami ini? Dan betulkah wanita yang rela dimadu akan mendapat bendera Siti Fatimah atau Siti Khodijah?
Jazakumullahu Khairon

Hamba Allah (08298736xxxx)

JAWABAN :

Wa’alaikummussalam wr wb.

Hamba Allah yang dirahmati Allah..
Perlu diketahui sebelumnya bahwa praktek poligami bukan ajaran baru Islam, tapi merupakan praktek umum yang terjadi jauh sebelum Islam dan tetap ada ketika Islam datang. Di sini Islam hanya memberi aturan, batasan dan rambu-rambu bagi praktek poligami tersebut.

Kemudian jika kita merujuk kepada pendapat para ulama terdahulu, maka akan kita dapati mayoritas dari beliau-beliau berpendapat bahwa malah yang sunnat pada hukum asalnya adalah iqtishor ‘ala al-wahidah (cukup satu saja) / Monogami, sedangkan ta’addud (poligami) hukum dasarnya boleh jika memenuhi syarat-syaratnya.

Dalam kitab Al-Bayan fii Madzhabi al-Imam al-Syafi’i (11/189) dijelaskan:
قال الشافعي: وأحب له أن يقتصر على واحدة وإن أبيح له أكثر؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ( فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا ).
فاعترض ابن داود على الشافعي، وقال : لِمَ قال الاقتصار على واحدة أفضل ، وقد كان النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جمع بين زوجات كثيرة ، ولا يفعل إلا الأفضل ، ولأنه قال : ( تناكحوا تكثروا)؟ فالجواب : أن غير النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنما كان الأفضل في حقه الاقتصار على واحدة ؛ خوفًا منه أن لا يعدل ، فأما النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فإنه كان يؤمن ذلك في حقه. وأما قوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (تناكحوا تكثروا) فإنما ندب إلى النكاح لا إلى العدد.

Artinya:
Imam Syafi’i berkata: “Dan lebih baik baginya cukup seorang istri saja, meskipun dibolehkan lebih dari satu, karena Firman Allah: (jika kamu merasa takut akan berlaku tidak adil, maka satu saja…)”, Maka Abu Dawud membantah asy-Syafi’i dengan berkata: “Mengapa berkata cukup satu itu lebih afdol, padahal Nabi SAW memiliki banyak istri, dan tentu yang dilakukan beliau itulah yang lebih afdhol, dan bukankah beliau juga bersabda “menikahlah dan menjadi banyaklah (dengan beranak-pinak)?” Maka jawabannya: “Bahwa bagi selain Nabi yang lebih afdhol atasnya adalah mencukupkan dirinya atas seorang istri, karena dikhawatirkan terjadinya ketidakadilan dari dirinya. Sedangkan Nabi sudah dipastikan aman dari yang demikian itu (berlaku tidak adil). Sedangkan sabda beliau (menikahlah dan menjadi banyaklah) itu menunjukkan kesunnatan menikah, bukan poligami”.

Imam asy-Syarbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj (3/165) menegaskan:
وَيُسَنُّ أَنْ لَا يَزِيدَ عَلَى امْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ ظَاهِرَةٍ

Artinya:
Disunnatkan untuk tidak lebih dari satu orang istri, kecuali dalam keadaan hajat yang nampak.

Imam Al-Hijawi dari kalangan Hanabilah berkata dalam kitab Kasysyaf al-Qina (11/148):

ويُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يَزِيدَ عَلَى وَاحِدَةٍ إنْ حَصَلَ بِهَا الْإِعْفَافُ ؛ لِمَا فِيهِ مِنْ التَّعَرُّضِ لِلْمُحَرَّمِ ، قَالَ تَعَالَى : ( وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ) ، وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إلَى إحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ ) رَوَاهُ الْخَمْسَةُ

Artinya:
Dianjurkan untuk tidak lebih dari satu istri, jika dengannya terwujud i’faf (sikap menjaga kehormatan diri), karena di dalam poligami terdapat celah untuk seorang jatuh dalam perkara haram. Allah Ta’ala berfirman (Kalian tidak akan mampu berlaku adil di antara istri-istri kalian walaupun kalian sangat ingin untuk itu). Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam bersabda : (Barang siapa yang memiliki dua istri, lalu dia condong kepada salah satu dari keduanya, dia akan datang di hari kiamat dalam kondisi miring) diriwayatkan oleh imam yang lima.

Jamaluddin Al-Rimiy dalam kitab Al-Ma’ani al-Badi’ah fi Ma’rifati Ikhtilafi Ahli al-Syari’ah:

عِنْدَ الشَّافِعِيِّ وكافة العلماء : يجوز للحرِّ أن يجمع بين أربع زوجات حرائر، ولا يجوز أن يجمع بين أكثر من أربع ، ويستحب أن لا يزيد على واحدة لا سيما في زماننا هذا

Artinya:
Menurut Al-Syafi’i dan Mayoritas Ulama: Boleh bagi laki-laki merdeka mengumpulkan empat orang istri, dan tidak boleh lebih dari empat, dan disunnatkan tidak lebih dari satu orang, apalagi di zaman kita sekarang ini.

Dari ulasan di atas jelas bahwa yang SUNNAH adalah menikah dengan satu orang istri, sedangkan lebih dari satu sampai empat hukumnya MUBAH jika dia percaya diri bisa berlaku ‘adil.

Sedangkan mengenai bendera Siti Fatimah atau Siti Khadijah bagi wanita yang rela dimadu, pengasuh Rubrik ini belum menemukan dasar haditsnya ataupun ibarat dalam kitab para ulama, namun melihat sejarah hidup Saayidatuna Siti Khodijah, beliau tidak pernah dimadu oleh Rasulullah dari sejak menikah sampai wafatnya, dan Saayidatuna Siti Fatimah juga tidak pernah dimadu oleh Sayidina Ali sampai beliau wafat, malah dalam hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim disebutkan:
إن بني هشام بن المغيرة استأذنوني أن ينكحوا ابنتهم علي بن أبي طالب فلا آذن لهم، ثم لا آذن لهم ثم لا آذن لهم، إلا أن يحب ابن أبي طالب أن يطلق ابنتي وينكح ابنتهم. فإنما ابنتي بضعة مني، يريبني ما أرابها، ويؤذيني ما آذاها

Artinya:
Sesungguhnya Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya. Kecuali jika ia menginginkan Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku baru menikahi putri mereka. Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu.

Dari fakta ini, kayaknya cerita mengenai bendera Siti Fatimah atau Siti Khadijah ini sulit diterima logika sehat. Wallahu a’lam.

Kolom Tanya Tuan Guru (TTG) ini diasuh oleh TGH. Esrar Al Haque, Lc. M. Hi, seorang ulama muda progresif lulusan Madrasah Shalatiyah Makkah dan saat ini sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al Hasanain NU Beraim. Silakan kirim pertanyaan anda melalui WA/LINE di HP. 082339993330 atau email ke ltnnuloteng@gmail.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close